Kekalahan yang dialami Pasukan Salib di tahun 1187 menyisakan dendam dan keinginan untuk merebut kembali wilayah-wilayah kekuasaan mereka yang telah terlepas. Pada tahun 1189, Paus Gregory VIII menyerukan Perang Salib III. Ia menyeru kerajaan-kerajaan besar Kristen di Eropa untuk menyambut seruannya tersebut. Sekutu bersar Salib yang teridiri dari Frederick Barbarossa dari Kerajaan Romawi, Philip Augustus dari Prancis, Richard The Lion Hart dari Inggris, dan ditambah Guy de Lusignan yang menghianati janjinya kepada Shalahuddin untuk tidak kembali memeranginya setelah Shalahuddin membebaskannya dari tawanan, mereka semua bersatu dalam shaf Pasukan Salib untuk menghadapi Shalahuddin al-Ayyubi dan umat Islam.
Perang terbesar dalam sejarah konflik Pasukan Salib dan Pasukan Islam pun mulai berkobar. Frederick Barbarossa menempuh jalur darat dan berhasil ditenggelamkan ketika menyeberangi sungai Cicilian, sebagian pasukannya kembali dan sebagian yang lain bergabung dengan pasukan Richard The Lion Hart.
Dalam peperangan yang berlangsung selama dua tahun ini, Richard berhasil mengalahkan Shalahuddin al-Ayyubi. Akibat kekalahan itu sebagian Pasukan Islam ditawan oleh Richard, dan ia meminta dua syarat jika Shalahuddin menginginkan pasukannya dibebaskan; pertama, membayar tebusan sebesar 200.000 keping emas, kedua, Pasukan Islam harus memperbaiki Salib Suci. Namun syarat ini tidak dipenuhi oleh Pasukan Islam dan Richard membantai 2700 tawanan tersebut.
Apa yang dilakukan Richard tentu saja jauh berbeda dengan yang dilakukan Shalahuddin ketika menaklukkan Jerusalem, Shalahuddin membebaskan ribuan tawanan Jerusalem tanpa menciderai mereka sedikit pun, ditambah lagi pembebasan tawanan lainnya atas permintaan Uskup Jerusalem. Tidak hanya sampai di situ, bersamaan dengan tawanan Pasukan Islam yang dibunuh oleh Richard, Shalahuddin malah membalasnya dengan membebaskan tawanan yang ada padanya yang terdiri dari orang-orang miskin, para wanita dan anak-anak, tanpa tebusan sama sekali.